Peringatan Detik-detik Proklamasi di Bawah Laut

Sebanyak 2.827 orang ikut serta dalam pemecahan rekor dunia upacara bawah air di Pantai Malalayang, Manado, Senin, dalam rangka peringatan detik-detik proklamasi HUT Kemerdekaan RI ke 64.

“Selain peserta ada juga tujuh pejabat upacara dan 19 tim setting area, di bawah air Pantai Malalayang,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul di Manado Senin (17/8).

Sitompul menjelaskan para peserta itu terdiri atas 2.700 penyelam lokal, penyelam VIP dan 76 partisipan dari mancanegara.

Dalam upacara tersebut bertindak sebagai inspektur upacara adalah Wakil Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Madya TNI Moekhlas Sidik, dan komandan upacara Kadispenal, Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul.

Sumber : kompas

Iklan

Indramayu Bakal Tenggelam Tidak Lama Lagi

Tanjung Indramayu telah tenggelam akibat abrasi yang tidak bisa dikendalikan, baik oleh masyarakat sekitar maupun Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

“Pengikisan pantai terus terjadi setiap tahunnya dari peta tahun 2004 masih terlihat ada Tanjung Indramayu. Di tanjung tersebut terdapat dua daratan yaitu Pancar Payung dan Pancar Belah, tetapi pada tahun 2009 sudah tidak tampak, semua berubah jadi lautan,” kata Kepala Pelabuhan Indramayu, Sukiman, di Indramayu.

“Tanjung Indramayu memiliki panjang sekitar 3.600 meter dan lebar 1.800 meter telah berubah menjadi lautan, peristiwa tersebut sangat mengkhawatirkan daratan yang masih ada, kalau pihak terkait tidak berupaya mempertahankannya maka semua bibir pantai akan hilang,” katanya.

“Untuk lima tahun ke depan bisa terjadi lebih parah, maka dari masyarakat serta pemerintah harus segera melakukan pencegahan lebih awal, supaya daratan yang ada bisa dipertahankan,” katanya.

“Saat ini masyarakat di kawasan pantai utara Indramayu belum menyadari serta tidak pernah peduli terhadap pantai dan lingkungan di sekitarnya, maka dalam hitungan waktu yang singkat telah terjadi kerusakan pantai,” katanya.

“Solusi untuk mengantisipasinya antara lain, menanam pohon bakau, mangrove, juga menghindari pengerukan bibir pantai yang sering terjadi di kawasan pantai Indramayu, dalam permasalahan ini masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama untuk mempertahankan daratan tersebut,” katanya.

“Dalam mempertahankan daratan masyarakat harus peduli terhadap lingkungan juga harus bisa memeliharanya, apabila hal tersebut tidak diperhatikan maka Indramayu akan tenggelam dalam waktu yang tidak lama lagi,” katanya.

“Tanjung sangat diperlukan untuk sebuah pelabuhan karena fungsi dan manfaatnya sangat banyak seperti bisa menahan apabila terjadi angin dari timur, lahan bongkar muat kapal juga sebagai penahan gelombang,” katanya.

“Selain Tanjung Indramayu, masih banyak daratan yang akan mengalami hal serupa seperti bibir pantai di daerah Sukra yaitu Sumur Adem di mana lahan tersebut dijadikan proyek pembangkit listrik tenaga uap,” katanya.

“Yang paling jelas terlihat yaitu kawasan wisata bahari Tirtamaya yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Indramayu, pada tahun 1997 masih ada daratan untuk sarana pengunjung, tapi untuk saat ini daratan tersebut berubah menjadi lautan,” katanya.

Sumber : kompas

Ditemukan Spesies baru dinosaurus

Ausi-Dino

Ausi-Dino

Dalam tulisan yang dimuat jurnal ilmiah PLOS One, mereka menggambarkan salah satu dinosaurus itu adalah predator mematikan dengan tiga cakar tajam dan besar di masing-masing tangannya.

Sedangkan dua lainnya adalah herbivora. Yang satu berwujud seperti jerapah sementara lainnya berbentuk seperti kuda nil.

Fosil ketiga dinosaurus itu diperkirakan berasal dari 100 juta tahun lalu di pertengahan masa Cretaceous.

Ketiga fosil dinosaurus ini ditemukan di kawasan berbatu yang dikenal dengan nama Winton Formation.

Melebihi velociraptor

Palentologis Museum Queensland, Scott Hucknell mengatakan karnivora yang kemudian dinamai Australovenator Wintonensis itu berukuran lebih besar dan lebih menyeramkan ketimbang Velociraptor yang dipopulerkan film Jurassic Park.

“Dia adalah cheetah dalam masanya, Banjo (panggilan dinosaurus ini) bertubuh ringan dan lincah. Hewan ini di tempat terbuka mampu mengejar hampir semua mangsanya dengan mudah,” kata Hucknell.

Dinosaurus itu diberi nama panggilan seperti salah satu karakter dalam lagu Australia terkenal Waltzing Mathilda.

Harian Sydney Morning Herald menjelaskan nama Banjo Patterson adalah pencipta Waltzing Mathilda. Lagu ini diciptakan Banjo di Winton tahun 1885.

Sementara itu, Clancy atau Witonotitan wattsi, adalah seekor hewan bertubuh tinggi dan ramping.

Sedangkan Mathilda alias Diamantinasaurus Matildae bertubuh lebih gempal seperti kuda nil.

Kedua dinosuarus pemakan tumbuhan spesies sauropoda berkaki empat ini adalah jenis baru titanosaurus – hewan terbesar yang pernah ada di muka bumi.

Banjo dan Mathilda kemungkinan besar adalah pemangsa dan mangsanya, ditemukan terkubur bersama sedalam 98 meter di sebuah kolam.

Terobosan penting

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Public Library and Science One, dan diumumkan oleh PM Queensland Anna Bligh di MUseum Pubakala Australia di Winton.

Anna mengatakan penemuan ini adalah sebuah terobosan besar dalam memahami kehidupan prasejarah di Australia.

Sementara itu, ahli purbakala Museum Victoria menilai penemuan ini adalah sebuah hal yang luar biasa.

Dia mengatakan temuan ini kembali menempatkan Australia dalam peta kepurbakalaan dunia sejak 1981.

Saat itu, fosil Muttaburrasaurus seekor herbivora berkaki empat yang dapat berdiri dengan dua kaki ditemukan di benua ini.

Temuan baru ini akan menjadi koleksi Museum Kepurbakalaan Australia di Winton.

Saat ini museum itu tengah direnovasi. Saat renovasi selesai pada 2015 diharapkan museum itu menjadi pusat fossil dinosaurus Australia.

Sumber : bbcindonesia

Tumbuhan pun Bisa Mengenali Saudaranya

tumbuhanCALIFORNIA – Tak hanya manusia yang bisa mengenali dan menunjukkan kasih sayang dengan saudaranya, tumbuhan pun demikian. Ilmuwan dari Universitas California, Amerika dan Universitas Kyoto, Jepang telah menemukan sifat alamiah tumbuhan yang unik ini.

Richard Karban dan Kaori Shijiori mencoba mengadakan penelitian dengan cara menyetek tumbuhan bernama Artemisia tridentate. Tumbuhan ini merupakan jenis sagebrush yang normalnya tidak bereproduksi dengan memperbanyak diri.

Sebagian potongan stek ditempatkan di dekat tumbuhan induk yang merupakan satu klon dan satu genetik. Sementara sebagian lainnya didekatkan dengan sagebrush yang bukan berasal dari genetik yang sama.

Tanaman ini kemudian dibiarkan tumbuh liar di Sagehen Creek Natural reserve di Universitas California. Para peneliti memotong setiap klon yang mereka tanam, seolah-olah itu adalah kerusakan yang disebabkan oleh herbivora alami seperti belalang.

Setelah dibiarkan tumbuh selama satu tahun, tanaman yang tumbuh di samping klon mereka yang mengalami kerusakan, lebih sedikit menderita kerusakan yakni 42 persen lebih sedikit dari mereka yang tumbuh di dekat tanaman rusak yang tidak satu genetik.

Tanaman-tanaman yang dipotong ini sepertinya memberikan sinyal kepada saudara mereka yang identik secara  genetik bahwa ada serangan yang mengancam. Sehingga tanaman yang diberikan sinyal segera melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi mereka tidak memperingatkan tanaman lain yang tidak satu genetik dengannya. Demikian keterangan yang dikutip dari BBC, Minggu (6/6/2009).

“Saya rasa tanaman saling berkomunikasi menggunakan bahan kimia yang mudah menguap. Ketika satu tanaman dipotong atau diserang herbivora, dia akan mengeluarkan bahan kimia ini ke udara,” kata  Karban.

Karban dan Shijiori sepakat menyimpulkan bahwa pelepasan bahan kimia ini ditujukan untuk memperingatkan tanaman-tanaman disekitarnya agar membela diri.

“Mereka akan mencoba menangkal serangan dengan mengisi daun-daun mereka dengan bahan kimia berbahaya atau dengan menggerakkan batang dan daun untuk membuatnya terlihat tidak enak,” kata Shijiori.

Sumber : okezone

Gunung Api Raksasa Bawah Laut Ditemukan Di Sumatra

Pakar Geologi Indonesia, AS, dan Prancis berhasil menemukan gunung api bawah laut raksasa berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter yang berada 330km arah barat kota Bengkulu.

Yusuf Surachman mengatakan kepada para wartawan “Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setnggi ini kecuali gunung Jayawijaya di Papua”

Gunung berapi bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatra, 330 dari Bengkulu, dikedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter di permukaan laut.

Meskipun diketahui memiliki kaledra yang menandainya sebagai gunung api, para ahli mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus”

Survei menggunakan kapal seismik Geowave Champion milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia, karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Sejak gempa dan sunami akhir 2004 dan gempa-gempa susulan lainya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing

Bisa dibayangkan akibat yang ditimbulkan jika gunung bawah laut itu meletus.

Deklarasi Kelautan Manado Disepakati 75 Negara

KelautanDeklarasi Kelautan Manado (Manado Ocean Declaration) disepakati dalam Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) di Manado, Kamis. Deklarasi ini diadopsi 75 negara yang mengirimkan delegasi ke konferensi laut pertama di dunia itu.

“Semua sepakat, semua yang hadir mengadopsi,” kata Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan Gellwyn Yusuf seusai pertemuan tingkat tinggi WOC di Grand Kawanua Convention Center, Manado.

Negara yang mengadopsi deklarasi itu antara lain Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, Somalia, Suriname, Pakistan, Grenada, Amerika Serikat, Republik Korea, Perancis, India, China, Kamboja, Angola, Filipina, dan Namibia.

Ketua Pertemuan Pejabat Tinggi (Senior Official Meeting/SOM) WOC Eddy Pratomo mengatakan, kesepakatan dalam deklarasi ini selanjutnya diharapkan bisa memengaruhi pembahasan global mengenai perubahan iklim, dan menjadikan dimensi laut sebagai arus utama di dalamnya.

“Ini adalah bentuk komitmen politik yang jelas terkait dengan peran perubahan iklim terhadap laut dan sebaliknya. Para menteri dan delegasi juga telah menunjukkan keinginan mereka untuk membangun kemitraan dalam perlindungan laut,” katanya, saat menutup pertemuan.

Eddy yakin kesepakatan yang tertuang dalam Deklarasi Kelautan Manado selanjutnya akan menyatukan tujuan negara-negara peserta konferensi untuk menjadikan laut sebagai arus utama dalam setiap pembahasan dan negosiasi terkait perubahan iklim.

Namun, kata dia, kesepakatan yang dihasilkan dalam WOC baru merupakan langkah awal yang harus diikuti dengan tindak lanjut, sebelum benar-benar direalisasikan dan memberikan manfaat bagi semua, khususnya daerah kepulauan di negara-negara berkembang.

Menurut anggota delegasi dari China, Shang Zhen, deklarasi tersebut harus diikuti dengan lebih banyak kerja sama riset ilmiah untuk merumuskan strategi adaptasi yang tepat dalam rangka mengurangi dampak perubahan iklim terhadap laut dan sebaliknya.

Tentang mekanisme pendanaan dalam upaya adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim terhadap laut dan sebaliknya, Zhen mengatakan, selanjutnya harus ada kejelasan tentang apa saja yang bisa dicakup oleh pendanaan, dan apa yang bisa dijual untuk itu.

Ia mengatakan, implementasi deklarasi ini masih bergantung pada pertemuan para pihak dalam United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC di Kopenhagen, Denmark, Desember mendatang.

Penekanan pada Konservasi

Deklarasi Kelautan Manado terdiri atas 14 paragraf pembuka inti dan 21 poin kesepakatan operatif. Isi deklarasi antara lain berupa komitmen negara-negara peserta untuk melakukan konservasi laut jangka panjang, menerapkan manajemen pengelolaan sumber daya laut dan daerah pantai dengan pendekatan ekosistem, serta memperkuat kemitraan global untuk pembangunan berwawasan lingkungan.

Mereka juga menyepakati perlunya strategi nasional untuk pengelolaan ekosistem laut dan kawasan pantai serta penerapan pengelolaan laut dan daerah pantai secara terpadu.

Kesepakatan untuk bekerja sama dalam riset kelautan serta pertukaran informasi terkait hubungan perubahan iklim dan laut juga masuk dalam deklarasi yang dibahas sejak 11 Mei hingga 14 Mei itu.

Meski tidak dijelaskan secara rinci, tetapi deklarasi juga menitikberatkan perlunya penerapan kebijakan terpadu yang ramah lingkungan dalam pengelolaan laut dan daerah pantai dengan memperhatikan kehidupan masyarakat yang paling rentan, yakni mereka yang hidup di pesisir atau pantai.

Deklarasi juga menekankan kebutuhan dukungan finansial dan insentif untuk membantu negara-negara berkembang mewujudkan lingkungan yang baik bagi komunitas yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim, serta mengundang negara-negara dalam UNFCCC untuk mempertimbangkan dan memasukkan proposal proyek adaptasi perubahan iklim di laut ke dalam Adaptation Fund Board.

Pertukaran teknologi untuk pengurangan dampak perubahan iklim terhadap laut dan sebaliknya juga ditekankan, tetapi belum ada penjelasan mengenai mekanisme transfer teknologi yang dimaksud.

Mereka yang menyepakati deklarasi juga menyatakan akan melanjutkan kerja sama pada tingkat nasional dan regional, serta selanjutnya membangun area perlindungan laut.

Mereka juga mendorong upaya Sekretaris Jenderal PBB untuk memfasilitasi kerja sama dan koordinasi terkait masalah ini dalam sistem PBB, serta mengharapkan hasil efektif dari pertemuan para pihak (Conference of Parties/COP) UNFCCC ke-15 di Kopenhagen, Denmark, pada Desember mendatang.