Copy My Style – Saykoji

you copy my style
you copy again
apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
but sooner or later i gotta take my stand

udah bolak balik sampe balik kebolak
temen gue sampe keselek pas makan kolak
lagi lagi berulang ulang terus terjadi
tetangga bikin ulah lagi bikin sakit hati

suka ngaku ngaku kagak malu malu
punya indonesia di klaim satu satu
apa memang kalian yang gak mampu mampu
buat budaya sendiri efek gak ampuh ampuh

baca rambu rambu, bangsaku berbudi luhur
tapi usik terus, reputasi mu masuk kubur
jujur gue bangga jujur gue bersyukur
elo ngaku ngaku berarti progress lo mundur

panas ku bertutur kreasi bicara
walau sudah jelas identitas ku dijarah
joe farizal aja bisa minta maap
masa yang lain kagak nyadar kagak tanggap

you copy my style
you copy again
apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
but sooner or later i gotta take my stand

bukan mo sok nasionalis sombong mengangkat alis
bukan mo sok gangster bukan sok sadis
walau lagi ngetop bukan gue sok ngartis
tapi bales pake lagu paling praktis

marah marah di internet, udah pasaran
ngomel ngomel di pasar kagak sabaran
kaya cacing kepanasan jenggot kebakaran
rasanya gatel pengen ngasih tamparan

tapi gue orang nya cinta damai
walau rasanya sulit untuk santai
amunisi di samping nyiur melambai
pakai musik rap ku siap membantai

memang satu rumpun masih sama melayu
tapi melayu saykoji keras dan gak kemayu
selendang rocker ku agak mendayu
tapi coba ajak gue battle rap ayuk!!

you copy my style
you copy again
apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
but sooner or later i gotta take my stand

Saykoji – Copy My Style _Again_.mp3

Sumber :

Daftar 32 Artefak Indonesia Yang di Klaim Negara Lain

Indonesia sangat kaya akan budaya, fakta ini tidak bisa disangkal lagi oleh siapapun. Namun dibalik kekayaan tersebut justru Pemerintah dan bangsa Indonesia sangat lemah mematenkan apa yang seharusnya menjadi hak bangsa Indonesia.

Dalam seminggu terakhir Bangsa Indonesia dikagetkan dengan klaim Malaysia atas tarian Pendet dari Bali. Dari data yang dikumpul situs http://budaya-indonesia.org setidaknya terdapat 32 daftar artefak budaya Indonesia yang di klaim bangsa lain. Baca lebih lanjut

Malaysia Ngefans Indonesia… Ha

Di tengah terusiknya nasionalisme rakyat Indonesia karena tari Pendet diaku sebagai budaya Malaysia, terungkap lagi adanya penjiplakan karya seniman Indonesia oleh Negeri Jiran itu. Tidak tanggung-tanggung, hasil karya seniman Indonesia berupa lagu berjudul Terang Bulan diduga telah dijadikan lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, dengan judul dan syair yang telah diubah. Baca lebih lanjut

Menelusuri Jejak Perjalanan Tari Pendet Milik Bali yang Diklaim Malaysia

Bali memang gudangnya tarian. Walaupun banyak punya jenis kreasi hasil kreatif tarian, masyarakat Bali tak lupa dengan karyanya. Makanya ketika Malaysia mengklaim tari Pendet adalah milik negeri yang menyiksa Manohara Odelia Pinot itu, seniman pulau ini berteriak. Baca lebih lanjut

Berulah lagi “Rasa Sayange” Diputar Malaysia Membuat kaget Pengunjung

Rombongan kesenian dari Malaysia mengejutkan pengunjung dengan memutar lagu “Rasa Sayange” untuk mengiringi tarian tradisionalnya pada acara “International Folklor Festival” di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Kamis.

Lagu tersebut dikemas secara bersambung atau “medley” yang digabungkan dengan lagu tradisional Malaysia lainnya.

Sejumlah penonton dan wartawan yang meliput acara tersebut terkejut saat lagu tersebut mengiringi tarian di bagian akhir tarian tradisional Malaysia.

Saat dikonfirmasi ANTARA, pihak panitia mengaku tidak tahu soal pemutaran lagu tersebut.

“Kami langsung meminta operator untuk menghentikan pemutaran lagu tersebut, namun lagu tersebut sudah selesai,” kata Staf Humas Taman Impian Jaya Ancol, Nicke Putri, sebagai mitra penyelenggara.

Ia menambahkan, selama tiga hari pelaksanaan festival, Malaysia menampilkan tarian yang berbeda dan dengan iringan musik yang berbeda pula.

“Kami tidak punya kewenangan untuk mengontrol apa yang akan mereka disuguhkan,” ujar Nicke.

Karena hal tersebut, kata dia, merupakan otoritas penyelenggara masing-masing negara peserta.

Pada saat lagu tersebut diputar, ada beberapa pengunjung berteriak agar lagu tersebut diganti, namun pertunjukan tetap berjalan dan penari tetap bermain secara profesional.

Rombongan kesenian dari Malaysia pada festival tersebut membawakan empat tarian tradisional dua di antaranya adalah tarian “songket” yang menggambarkan asal mula kain sarung yang merupakan salah satu bagian dari pakaian adatnya.

Berikutnya adalah tarian “japina” yang merupakan koleksi tarian japin yang berasal dari selatan Malaysia.

Lagu “Rasa Sayange” pernah menjadi masalah hak cipta antara Indonesia dan Malaysia yang mencuat pada akhir tahun 2007.

Masing-masing pihak mengklaim, pihak Malaysia pun pernah menggunakan lagu tersebut pada promosi pariwisatanya.

Pada bulan Desember 2007, di pertemuan di Bali, Menteri Penerangan Malaysia, Dato Seri Zainudin mengatakan isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat berkaitan upaya mempatenkan hak cipta lagu “Rasa Sayange” untuk negara Malaysia itu, tidaklah benar.

Sementara itu, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, bersikeras lagu “Rasa Sayange” adalah milik Indonesia, karena merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di provinsi Maluku sejak zaman leluhur.

Sumber : antara

Menyikapi Kepongahan Negara Tetangga

KASUS penyiksaan tenaga kerja Indonesia (TKI) oleh oknum warga Malaysia mendorong pemerintah Indonesia bersikap tegas. Melalui Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Eman Suparno, pemerintah melakukan moratorium (penghentian sementara) pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia mulai 25 Juni lalu sampai 15 Juli 2009 mendatang.
Moratorium pemerintah itu ternyata tak membuat pemerintah Malaysia jera. Kemarin (30/6), pemerintah Malaysia melalui Menteri Tenaga Kerja Malaysia S. Subramaniam menilai keputusan pemerintah Indonesia tersebut sebagai keputusan emosional. Di koran The Strait Times (30/6), Subramaniam menyatakan, keputusan boikot itu hanya akan menjadi isu sementara, sesudah pemilu presiden, semua akan kembali normal. Tetapi, jika boikot tersebut berlanjut, Subramaniam menegaskan Malaysia siap mencari tenaga kerja pembantu rumah tangga dari negara-negara lain.
Sikap pemerintah Malaysia itu terkesan pongah, apalagi jika menyimak sejarah bahwa para TKI datang ke sana atas kehendak pemerintah Malaysia juga. Pada 1974, Perdana Menteri Tun Abdul Razak meminta Presiden Soeharto mendatangkan TKI ke Malaysia untuk mengimbangi jumlah suku bangsa (puak) China. Gelombang pertama ribuan TKI -yang terdiri atas dokter, guru, dan tenaga terdidik- ke Malaysia, konon, juga mendorong lahirnya Universitas Kebangsaan, kampus terbesar di Malaysia. Para TKI adalah perintis institusi pendidikan Melayu. Ekonomi Malaysia pun pada awal 1990-an melejit berkat TKI yang dikenal sebagai pekerja keras, tekun, tabah, dan tahan menderita.
Sayang, hubungan yang semula saling menguntungkan itu tak bertahan lama. Pada pertengahan 1990-an, Malaysia yang sudah makmur -yang sebagian dari perasan keringat para TKI- mulai melakukan industrialisasi sektor pertanian yang mensyaratkan tenaga kerja ahli. TKI yang semula menjadi mitra pembangunan pun mulai dianggap beban. Habis manis sepah dibuang.
Pemerintah Indonesia juga tak luput dari kesalahan. Bertahun-tahun TKI dikirim ke luar negeri karena kurangnya lapangan pekerjaan di dalam negeri. Sayang, selama itu pula pemerintah tak kunjung mampu menjamin perlindungan hukum atas mereka. Kondisi negara lain yang membutuhkan TKI guna mendukung perekonomian mereka tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah Indonesia untuk menuntut jaminan perlindungan hukum dan perlakuan yang layak bagi TKI. Langkah penghentian sementara pengiriman TKI ke Malaysia, meski terlambat, diharapkan menjadi isyarat ketegasan pemerintah kita terhadap pemerintah negara tetangga. Ada prinsip kesederajatan serta pengakuan terhadap harkat dan martabat manusia yang harus dijunjung tinggi oleh warga di negara tetangga.
Kita berharap, moratorium pengiriman TKI ke Malaysia tersebut dibarengi dengan peningkatan pengawasan. Sebab, tenaga kerja Indonesia masih bisa pergi ke sana melalui penyalur resmi atau ilegal. Jika semua saluran untuk mendapatkan tenaga kerja murah dan pekerja keras tertutup bagi Malaysia, tak ada alasan bagi negeri jiran itu untuk tidak mengakomodasi permintaan pemerintah Indonesia. Namun, jika Malaysia tetap pongah, pemerintah tak salah juga berlogika seperti Menaker Malaysia S. Subramaniam dengan menyatakan, toh negara tujuan penempatan TKI bukan hanya Malaysia. Setidaknya, ada 15 negara yang selama ini menjadi tujuan saudara-saudara kita yang ingin bekerja di perantauan dan selama ini relatif tidak ada masalah.

Sumber : pontianakpost