Bikin Kopi Sambil Bugil, Ditangkap

Seorang warga Amerika Serikat yang membuat kopi di rumahnya sambil bugil kini menghadapi tuntutan melakukan perbuatan tidak senonoh.

Eric Williamson, warga Springfield, Virginia, tengah membuat kopi di dapurnya ketika seorang perempuan dan bocah berumur tujuh tahun berjalan melewati jendela dan melihatnya. Perempuan itu mengadu kepada polisi yang kemudian menangkap Williamson, Senin lalu.

Williamson (29) menegaskan dirinya tidak melakukan hal yang salah dan jika ada yang melihatnya tanpa busana, maka itu adalah kecelakaan.

“Saya memang tidak memakai pakaian, tapi saya sedang sendirian, di rumah saya sendiri, dan baru saja bangun tidur. Ketika itu gelap dan saya tidak berpikir ada orang di luar yang melihat saya,” akunya, seperti dilansir Telegraph, Jumat (23/10/2009).

“Saya tidak pernah berbicara dengan siapa pun, tidak pernah melihat siapa pun. Tidak terlintas dalam benak saya, datang dan membuat kopi. Maksudnya, jika saya berdiri dan terlihat nyaman di dapur saya, itu adalah hal alamiah. Ini dapur saya,” tegas ayah seorang putri berusia lima tahun itu.

Seorang juru bicara kepolisian Fairfax, Mary Ann Jennings, mengatakan Williamson ditahan karena petugas yakin dia ingin dilihat telanjang oleh publik.

Pria 29 tahun itu menghadapi ancaman penjara satu tahun dan denda USD2.000 jika dinyatakan bersalah

Sumber : okezone

Kisah Hidup Seorang Bayi Selama 99 Hari (TRUE STORY)

Matt Mooney dan Ginny Mooney sangat senang mendapatkan anak pertama, namun kebahagian itu cuma sesaat, anaknya tersebut, Eliot Mooney, lahir dengan penyakit yang sulit disembuhkan, bahkan dokter memprediksikan bahwa Eliot hanya mampu bertahan hidup 1 hari saja. Namun Eliot berhasil membuktikan dia mampu bertahan hidup, walau sehari-harinya ia harus hidup dipenuhi selang ditubuhnya. Matt dan Ginny sangat bahagia dan menerima kondisi Eliot apa adanya, mereka senang sekali mengabadikan perkembangan Eliot setiap hari dengan video dan foto yg lalu di publish di blog mereka. Banyak dukungan mengalir pada Eliot melalui blog tersebut.
Tuhan memberi, Tuhan pula yang mengambil, Eliot Mooney hanya bisa memberikan kebahagian pada ortunya dan diberikan kasih sayang oleh ortunya hanya dalam 99 hari. Eliot meninggal karena paru2 nya tidak berkembang dan jantungnya berlubang.
Matt akhirnya membuat sebuah video berjudul 99 Balloons yg berisi kumpulan foto dan video Eliot dengan Matt yang membacakan suratnya untuk Eliot, anaknya yang tak pernah bicara. Video tersebut diberi nama 99 Balloons karena saat Eliot meninggal para saudara dan orang2 terdekatnya melepaskan 99 balon ke udara, sebagai simbol 99 hari yang menyenangkan dan semoga Eliot bisa terbang ke surga…

Sumber : klik disini

Enam Anak Ditahan Gara-gara Mencuri Jagung

Enam anak ditahan di penjara sejak 25 Juni 2009 hanya gara-gara mencuri enam biji jagung. Saat ini keenam anak tersebut masih menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri, Magetan.

Keenam anak yang semuanya laki-laki itu adalah RA (15), AAS (14), FAR (17), DTS (17), AHK (17), dan IPMY (17). Mereka semua merupakan warga Maospati, Magetan. Dari keenam anak ini, RA dan AAS merupakan pelajar sekolah menengah pertama sedangkan FAR, DTS, dan IPMY merupakan pelajar sekolah menengah atas. Adapun AHK tidak sekolah. Baca lebih lanjut

Ada Gadis 15 Tahun “Jual” Temannya Rp300 Ribu

Seorang gadis belia berusia 15 tahun berani melakukan perdagangan anak (trafficking). Akibat perbuatannya itu, gadis berinisial LR, warga Desa Kembangsri, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur itu harus mendekam di penjara.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Samsul Makali melalui Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Mojokerto, Aiptu Sri Mulyani mengungkapkan, tersangka diamankan di tahanan polres karena ada laporan dari orangtua Bunga (15), yang menjadi korban.

Tersangka telah menjual korban kepada oknum perangkat desa di Kecamatan Pungging. Korban dijual tersangka dengan harga Rp300 ribu. “Dari uang itu, korban hanya diberi Rp100 ribu,” ungkap Aiptu Sri Mulyani, Jumat (14/8/2009).

Traffficking itu sendiri bermula pertemuan antara korban dan LR, yang memang pernah satu sekolah di SMP. Saat itu, LR mengiming-imingi korban dengan pekerjaan yang menggiurkan. Namun, korban justru dipaksa menemani hidung belang di sebuah kafe remang-remang di Pacet. Dari sanalah korban lantas dipaksa melayani oknum aparat desa itu. “Sebelum disuruh melayani, oleh tersangka, korban diberi pil double L, terangnya

Sumber : okezone

Video Ritual Lempar Bayi di India

DALAM sebuah ritual yang kelihatannya menyeramkan dan menggetarkan hati, para penduduk desa di India begitu gembira saat mereka menonton bayi-bayi yang berteriak menangis karena dijatuhkan dari menara sebuah kuil setinggi 50 kaki (25 meter).

Selama 500 tahun, umat Islam yang berdiam di India bagian barat melanjutkan tradisi ini, sebuah ritus yang dimaksudkan agar kesehatan dan keberuntungan berada di pihak si bayi.

Setelah dilempar, bayi-bayi ini mendarat di sebuah kain putih yang direntangkan dan dipegang oleh puluhan pria di bawahnya. Penduduk desa mengatakan, selama ini tidak ada bayi yang terluka dalam ritual yang biasa dilakukan oleh kaum muslim dan hindu di Desa Musti, distrik Solapur, negara bagian Maharashtra.

Kebiasaan ini ternyata juga dilakukan di beberapa tempat lain yang kebanyakan desa-desa kecil dalam sebuah perayaan khusus.

Para orangtua yang menginginkan bayi-bayinya berpartisipasi dalam acara ini, pertama-tama harus mengucap sumpah di hadapan Baba Sheikh Umar Saheb Dargah atau di depan kuil. Para penduduk sendiri mengatakan bahwa ritual ini merupakan bentuk puji syukur.

Meski begitu, kritik atas kebiasaan ini datang juga pada mereka, mengatakan bahwa hal ini berbahaya. “Negara tidak ikut campur,” jelas Sanal Edamaruku, pendiri dan presiden Kaum Rasionalis Internasional dan Asosiasi Rasionalis India, kelompok yang mendukung sekularisme dan kebebasan berekspresi.

sumber : kompas

Video    : youtube

Wow Ada Bocah 7 Tahun Curi Mobil

mobil curianSeorang bocah berusia tujuh tahun menolak untuk berangkat beribadah ke gereja. Dia bahkan nekat mencuri sebuah mobil untuk kabur. Polisi pun memburu bocah badung itu.

ABC melaporkan, polisi di Utah memperingatkan bocah yang mengemudi dengan serampangan itu, Minggu 26 Juli lalu. Demikian seperti dikutip dari news.com.au, Jumat (31/7/2009).

Kapten Klint Anderson, sherif di wilayah Weber, mengatakan dua petugas menangkap bocah itu sekitar 72 kilometer sebelah utara Salt Lake City. Pengejaran terhadap bocah itu terekam dalam kamera di mobil polisi.

Tidak ada tuntutan yang bakal diajukan karena bocah itu masih belum cukup umur. Namun polisi meminta ayahnya menjaga anaknya dengan baik.

Sumber : okezone

10 Anak Didakwa Judi Lantaran Bermain Koin

23 Juli adalah peringatan Hari Anak Nasional. Ironisnya, Selasa 21 Juli kemarin, sepuluh anak duduk di pesakitan di Pengadilan Negeri Tangerang sebagai terdakwa judi. Nasib mereka belum jelas, karena sidang dengan agenda pembacaan tuntutan jaksa itu diundur. Pasalnya, jaksa belum siap.

Kuasa hukum para bocah itu, Christine Tambunan menyesalkan penundaan itu. Dia menangkap kesan bahwa jaksa sengaja memperlambat persidangan. “Harusnya sekarang sidang selesai,” ucap Christine kesal.

Menurut Christine, dengan lamanya proses peradilan itu, dikhawatirkan bisa mengganggu pendidikan anak-anak yang masih duduk di bangku Selokah Dasar tersebut. Selain itu, dia menilai judi yang dilakukan anak-anak itu bukan bertujuan mencari uang.

Akan tetapi lebih pada bermain seperti kebanyakan yang dilakukan anak lainnya yaitu mencari kesenangan. “Semua anak mengaku, uang yang dipakai taruhan Rp 1.000. Bagi yang menang, dipakai untuk makan bersama dan mereka pulang tidak membawa uang. Jadi dimana letak judinya?,” ujarnya.

Persidangan itu juga menuai protes dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisi itu sempat mengajukan keberatan ke Kejaksaan Negeri Tangerang. Sayang, keberatan itu ditolak.

Marni (50), salah satu ibu bocah mengharapkan agar kasus itu cepat selesai dan kedua anaknya cepat dibebaskan. Sebab, dia merasa sudah lelah harus bolak-balik dari kampungnya Rawa Rengas, Kecamatan Kosambi. “Saya sudah capek mas,” keluh Marni.

Senada dikatakan Bule (30), ibu dari Musa dan Takip, merasa sedih melihat anaknya yang beberapa hari ini tidak sekolah, padahal ini pekan pertama ajaran baru. “Saya harus mengurus izin ke sekolahnya, kemudian menghadiri persidangan. Saya harap pengadilan secepatnya membebaskan anak saya, karena menyita waktu dan menguras energi dan materi,” ucapnya.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) berancang-ancang melaporkan jaksa yang mendakwa sepuluh bocah yang bermain judi koin di Bandara Soekarno-Hatta itu ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Sekjen Komnas PA Aris Merdeka Sirait menjelaskan bahwa jaksa tidak bisa membuktikan baik formal maupun non formal tindak criminal perjudian yang dilakukan anak-anak itu.

Permainan yang dilakukan anak-anak itu bukan untuk mencari makan atau pekerjaan, melainkan hanya sebagai bermain saja. “Mereka adalah korban kebijakan orang dewasa yang tidak menyediakan ruang publik seperti arena bermain yang wajar, sarana ekspresi dan sebagainya, sehingga mencari hiburan melalui permainan itu,” ujar Aris.

Karena itu, lanjutnya, Komnas Anak menyatakan proses hukum yang dijalani 10 anak itu mulai dari penangkapan, penahanan dan pengadilan di wilayah hukum Tangerang itu tidak memiliki perspektif perlindungan anak. Seharusnya aparat hukum yang menagani kasus tersebut memiliki sensitifitas, simpati dan empati terhadap perlindungan anak.

Sikap yang diambil Kejari Tangerang tidak layak bagi anak di bawah umur dengan memberlakukan pasal 303 tentang perjudian. Padahal, dalam persidangan jaksa tidak bisa memberikan barang bukti dengan alasan koin 500 yang dijadikan alat judi hilang.

“Barang buktinya tidak ada, koin yang hilang itu dipinjam polisi dari tukang ojek untuk menangkap mereka. Sedangkan uang Rp 135.000 adalah hasil mereka (10 terdakwa) menyemir di Bandara,” jelasnya.

Sumber : jawapost