Video Ritual Lempar Bayi di India

DALAM sebuah ritual yang kelihatannya menyeramkan dan menggetarkan hati, para penduduk desa di India begitu gembira saat mereka menonton bayi-bayi yang berteriak menangis karena dijatuhkan dari menara sebuah kuil setinggi 50 kaki (25 meter).

Selama 500 tahun, umat Islam yang berdiam di India bagian barat melanjutkan tradisi ini, sebuah ritus yang dimaksudkan agar kesehatan dan keberuntungan berada di pihak si bayi.

Setelah dilempar, bayi-bayi ini mendarat di sebuah kain putih yang direntangkan dan dipegang oleh puluhan pria di bawahnya. Penduduk desa mengatakan, selama ini tidak ada bayi yang terluka dalam ritual yang biasa dilakukan oleh kaum muslim dan hindu di Desa Musti, distrik Solapur, negara bagian Maharashtra.

Kebiasaan ini ternyata juga dilakukan di beberapa tempat lain yang kebanyakan desa-desa kecil dalam sebuah perayaan khusus.

Para orangtua yang menginginkan bayi-bayinya berpartisipasi dalam acara ini, pertama-tama harus mengucap sumpah di hadapan Baba Sheikh Umar Saheb Dargah atau di depan kuil. Para penduduk sendiri mengatakan bahwa ritual ini merupakan bentuk puji syukur.

Meski begitu, kritik atas kebiasaan ini datang juga pada mereka, mengatakan bahwa hal ini berbahaya. “Negara tidak ikut campur,” jelas Sanal Edamaruku, pendiri dan presiden Kaum Rasionalis Internasional dan Asosiasi Rasionalis India, kelompok yang mendukung sekularisme dan kebebasan berekspresi.

sumber : kompas

Video    : youtube

Iklan

Video Penistaan Agama Resahkan Warga Madura

Bebeberapa warga yang ada di Pulau Madura, khususnya Kabupaten Bangkalan, dibuat resah dengan beredarnya video yang berisi tentang penistaan terhadap agama. Kini, video yang berjudul Otang Martabat (Hutang Martabat) tersebut diduga kuat telah beredar di khalayak umum.

Rekaman video tersebut pertama kali ditemukan Kholil AG Institute, di sebuah situs http://www.youtube.com. Dalam tayangan yang berdurasi sekitar 45 menit, secara garis besar berisi tentang aktivitas umat muslim mulai dari salat jamaah, mengaji, hingga ceramah agama.

Bila dilihat sepintas, dalam tayangan yang terdiri dari empat seri itu, lebih menampakkan ritual ibadah umat muslim. Namun, bila disimak hingga tuntas, ternyata berisi tentang ajaran agama lain (Kristen) yang sengaja disisipkan di bagian ceramah agama. Bahkan, secara jelas juga menggabarkan tentang nabi dan kitab Injil.

Demikian juga salah satu orang yang ditokohkan, dia memakai surban dan songkok, layaknya seorang ustadz. Namun, di salah satu adegan yang dimainkan, justru sering kali sang ustadz menyebut Nabi Isa dan menunjuk tiga titik yang ada di bagian tubuhnya, sama dengan saat penganut agama Kristen yang sedang beribadah.

“Ini jelas-jelas ada unsur penistaan agama, yang diduga kuat telah disisipkan oleh penganut agama lain,” ujar Direktur Kholil AG Institute, KH Imam Bukhori Kholil, di Madura, Rabu (5/8/2009).

Akibat maraknya video yang berlatar Arek Lancor, ikon Kabupaten Pamekasan, emosi warga Madura pun terpicu. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya Imam memilih untuk melaporkan temuan tersebut ke Polres Bangkalan, dengan harapan agar segera diusut tuntas.

Bila tidak segera dilakukan tindakan lebih konkrit, Imam khawatir akan mengundang kemarahan warga Madura yang mayoritas muslim. Dia menilai tidak ada alasan untuk tidak melakukan pengusutan, karena dalam laporannya telah disertai dengan barang bukti (BB) berupa satu keeping VCD yang berisi video Otang Martabat. “Sebelum ulama Madura merespons lebih lanjut, ada baiknya pihak kepolisian untuk segera mengusut tuntas,” tambah Imam.

Pengasuh pondok pesantren Ibnu Kholil Bangkalan ini menjelaskan, pelaku yang menyebarkan video penistaan agama, diduga kuat merupakan orang yang paham akan kultur Madura. Itu bisa dilihat dari setting lokasi, budaya dan bahasa yang digunakan, terlihat sangat kental nuansa Madura. “Kalau perlu tidak hanya pemeran yang ada dalam video itu yang ditangkap. Aktor intelektualnya juga harus disikat tuntas,” terangnya.

Sumber : okezone