Wanita Lajang Dilarang Konsumsi Pisang Ambon

Sebagai wanita lajang, tentu banyak aturan dan mitos yang selalu ada di sekitar kehidupan kita. Namun, beberapa mitos, ternyata memang bisa dibuktikan secara ilmiah. Itulah sebabnya pelarangan tersebut memang seharusnya dipatuhi. Larangan makan buah pisang ambon bagi seorang yang masih gadis misalnya. Pakar gizi Prof Ir Ahmad Sulaeman MS PhD, dalam perbincangan ringannya dengan Republika, menjelaskan alasan ilmiah dibalik pelarangan ini. “Pisang ambon itu punya zat yang membuat libido tinggi,” ujarnya.

Jika terlalu banyak mengonsumsi pisang ambon, bagi seorang gadis, akan berbahaya, karena libidonya akan naik. Padahal statusnya masih gadis, sehingga tak bisa menyalurkan hasrat seksualnya. “Jika sudah menikah, libido tinggi tak akan menjadi masalah, namun ketika masih gadis, ini menjdi problem tersendiri. Jadi lebih baik kurangi saja,” ujarnya.

 

Sumber : Republika

Iklan

Mari Beralih ke Air Kelapa

Di negara kita, air kelapa hijau sudah lama populer dimanfaatkan sebagai “obat” saat keracunan. Baru belakangan ini saja, air kelapa mulai diperkenalkan sebagai minuman pengganti sport drinks. Jadi, kita minum air kelapa untuk menggantikan cairan yang terbuang sehabis berolahraga. Baca lebih lanjut

Penggalan Tubuh Manusia Bebas dijual Di Thailand…?

Ingin mendapatkan anggota tubuh manusia yang masih segar? jawabnya ada negara Thailand melalui seseorang bernama Kittiwat Unarrom atau bisa mendapatkannya segera dengan memesannya melalui internet. Baca lebih lanjut

Ternyata Minum Bir Itu Sehat

birSelama ini kita sering memandang bahwa bir sebagai minuman beralkohol akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan, tapi ternyata, dalam beberapa penelitian, bir ternyata memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan kita (selama tidak diminum berlebih dan tidak melanggar aturan apapun).

Seberapa jauh sebenarnya bir akan membantu kita untuk menjadi lebih sehat?

1. Menurunkan Resiko Sakit Jantung

Meminum alkohol dalam jumlah sedang (tidak lebih dari dua gelas untuk pria dan satu gelas untuk wanita per hari) malah menurunkan resiko sakit jantung koroner sampai dengan 30 atau 60 persen, bahkan kepada mereka yang memiliki resiko diabetes, tekanan darah, bahkan juga kepada mereka yang pernah mengalami serangan jantung.

2. Membantu Pembentukan Tulang

Bir mengandung silikon, mineral yang membantu pembentukan massa tulang. Silikon yang terkandung dalam makanan seperti ini akan memperkuat dan meningkatkan kepadatan tulang, terutama di bagian pinggang dan wanita yang mengalami masa menopause.

3. Mencegah Kerusakan Sel

Pencegahan kerusakan sel ini akan mengurangi resiko kanker dan sakit jantung. Hop dan Malt yang digunakan dalam pembuatan bir mengandung antioksidan dalam jumlah besar. Bir juga mengandung polyphenol, antioksidan yang juga ditemukan dalam minuman anggur, buah-buahan, sayuran, dan teh hitam maupun hijau. Bir Lager dan Ale lebih banyak mengandung antioksidan daripada bir encer atau bir tanpa alkohol.

4. Melindungi Peminum dari Stroke

Penyakit seperti Alzheimer dan pikun ternyata merupakan 80% penyebab stroke. Konsumsi bir dalam jumlah menengah sering dikaitkan dengan kemampuan berpikir dan memori yang membaik

Jika kita menghitung volume minuman dan jumlah kandungan alkoholnya, bir memiliki jumlah antioksidan dua kali lipat dari anggur putih, walaupun jika dibandingkan dengan anggur merah, kandungan antioksidan bir hanya setengahnya. Tapi mengenai kemungkinan penyerapan dalam tubuh, karena kecilnya molekul antioksidan bir, maka kemungkinan penyerapan antioksidan bir akan jauh lebih mudah.

Bir tidak mengandung lemak atau kolesterol sama sekali, dan kandungan gula yang ada sangat rendah. Kalori yang ada dalam bir, sebagian sangat besar muncul dari kandungan alkohol, bukan dari kandungan gula yang ada.

Sumber : kapanlagi

Ada Jarum di Biskuit, Bocah NTT Nyaris Tewas

Biskuit bantuan World Food Programme (WFP) untuk rehabilitasi gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bermasalah. Sejumlah siswa di Kabupaten Kupang, kembali menemukan berbagai benda tajam seperti pisau silet, beling, jarum pentul, kapas, dan berbagai benda tajam lainnya dalam kemasan biskuit saat akan mengonsumsi.
Aparat kepolisian sementara melakukan penyelidikan atas kasus yang nyaris merekrut nyawa para siswa SD yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Kupang ini. Manager Programme Rehabilitasi Nutrisi Yayasan Alfa Omega Kupang Soleman Dethan membenarkan temuan itu.

“Benar ada berbagai benda tajam ditemukan dalam kemasan biskuit bantuan WFP yang dibagikan kepada siswa SD di Kabupaten Kupang,” ujar Dethan, Kamis (11/6/2009).

Menurutnya, Yayasan Alfa Omega yang bertindak sebagai distributor mengambil kebijakan untuk menarik kembali semua biskuit yang sudah dibagikan ke sekolah-sekolah. “Sampai saat ini, sudah 3,5 ton biskuit yang ditarik dari sekolah,” tandasnya.

Kasus terakhir ditemukan saat Arianto Sulam Sitaba (10), siswa Kelas IV SD Negeri Oeli’i II, Desa Oematnunu, Kecamatan Kupang Barat, nyaris tewas akibat sebuah jarum pentul tertancap dilangit-langit mulutnya saat mengonsumsi biskuit berbahaya tersebut, Rabu 10 Juni kemarin.

Kapolres Kupang AKBP Endang Syafruddin yang dihubungi terpisah membenarkan adanya kasus jarum pentul dalam biskuit bantuan WFP tersebut. Sebelumnya, kasus biscuit mengandung bahan berbahaya ini diteukan juga di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara.

Brasly Bussefe, Deputy Contry Director WFP Indonesia yang sempat hadir di Kupang pada April lalu mengatakan, hasil investigasi independent yang dilakukan UN Department of Safety and Securit (UNDSS) terhadap kasus biskuit membuktikan terjadi sabotase pihak tertentu.

“Kami bisa menjamin bahwa biskuit bantuan WFP 100 persen aman untuk di konsumsi. Kami telah melakukan investgasi independen di pabrik sampai distribusi dan kami dapatkan 100 persen aman,” kilahnya kala itu.

Sumber : okezone

Hati-Hati! Siomay Dan Kerupuk Putih Mengandung Boraks

Sebanyak 30 persen jajanan yang dijual di sekolah dasar di Depok positif mengandung bahan tambahan pangan berbahaya berupa boraks. Bahkan, kandungan boraks tersebut justru ditemukan dari sampel para pedagang di kantin sekolah, yang seharusnya dapat dikatakan aman untuk dikonsumsi.

Dinas Kesehatan Kota Depok mengambil sampel jajanan di 30 kantin SD yang terdapat di enam kecamatan dengan menggunakan enam parameter bahan tambahan pangan berbahaya, yaitu boraks, formalin, siklamat, rodhamin, methanil yellow, dan bakteri makanan.

Dari seluruh parameter, boraks adalah bahan tambahan pangan berbahaya yang paling banyak ditemukan. Kepala Seksi Pengawasan Obat dan Makanan Dinas Kesehatan Kota Depok Yulia Oktavia mengatakan, boraks biasa digunakan sebagai bahan pembersih, pengawet kayu, dan antiseptik kayu.

“Namun sering disalahgunakan untuk pengenyal bakso, mie basah, dan makanan lain, bahayanya banyak ditemukan pada jajanan anak SD, seperti bakso yang pakai boraks pasti mirip bola bekel kenyalnya,” jelasnya, Minggu (14/6/2009).

Sedikitnya, kata Yulia, ada enam jenis jajanan yang positif menggunakan boraks, seperti kerupuk putih, stik balado, bakso, somay, otak-otak, lontong, serta nugget atau daging olahan.

“Contoh lainnya misalnya cilok, yang pakai sagu itu, kita memang tidak mencicipi, hanya bisa dibedakan dari segi warna saja, lebih cerah, dan teksturnya lebih kenyal,” ujarnya.

Yulia menegaskan, para pedagang umumnya menggunakan boraks untuk menjadikan barang dagangannya tahan lama, dan meraih keuntungan sebesar mungkin. “Saya melihat alasan satu-satunya memang alasan ekonomi, pedagang umumnya ingin menekan biaya produksi dan meraih keuntungan sebesar-besarnya dan menghalalkan segala cara,” katanya.

Boraks, jelas Yulia, jika dikonsumsi dapat menimbulkan gejala keracunan dalam jangka pendek dan kanker dalam jangka panjang. “Lebih baik, anak-anak membawa bekal dari rumah, itu jauh lebih sehat dan aman,” tegasnya.

Sumber : okezone

Publik Warning : 30 Jenis Peralatan Makan “Melamin” Yang Berbahaya

Badan pengawas obat dan makanan Badan POM tanggal 1 Juni 2009 mengeluarkan peringatan (  Publik Warning ) terhadap 30 jenis peralatan makan melamin yang melepaskan formalin ( terlampir ) berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan bila digunakan untuk mewadahi makanan yang berair atau berasa asam, terlebih dalam keadaan panas.

Badan POM RI telah melakukan pengujian laboratorium terhadap 62 sampel peralatan makan ”Melamin”. Dari hasil pengujian tersebut ditemukan 30 positif melepaskan formalin.

Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan. Kalau sekitar tahun 1970-1980an melamin masih terbatas warna maupun coraknya, maka kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah lainnya. Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak hanya bisa dibeli di toko tetentu, tetapi juga di pasar tradisional sampai di pedagang kaki lima.

Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan kimia asal Belgia, Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan plastik sintetis pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan salah satu peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal abad ke-20. Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya kemudian, hasil penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula dalam industri peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai bahan dasar peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti yang dihasilkan dari melamin.

Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi menawarkan banyak kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan menarik, fungsinya juga lebih unggul dibanding peralatan makan lain yang terbuat dari keramik, logam, atau kaca. Melamin lebih ringan, kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun relatif lebih murah dibanding yang terbuat dari keramik misalnya.

Potensi Formalin

Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau sebagian orang tidak menyadari bahwa melamin mempunyai potensi membahayakan bagi kesehatan manusia. Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang Ariwahioedi PhD, MSc, melamin berpotensi menghasilkan monomer beracun yang disebut formaldehid (formalin). Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid juga digunakan untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahioedi, melamin merupakan suatu polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi) antara monomer formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu bergabung, maka sifat toxic dari formaldehid akan hilang karena terlebur menjadi satu senyawa, yakni melamin.

Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas Indonesia dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui kandungan formaldehid dalam perkakas melamin mencapai 4,76–9,22 miligram per liter. ”Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin. Sisa monomer formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan apabila masuk dalam tubuh manusia,” ujar Ariwahjoedi.

Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol, bahan formaldehid yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah fenol. Maka, kerap terjadi residu. Ini bukan berarti proses produksi yang sudah menerapkan well controlled dan tidak menghasilkan residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun. Menurut Ariwahjoedi, formaldehid di dalam senyawa melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa yang dinamakan depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu, partikel-partikel formaldehid kembali muncul sebagai monomer, dan otomatis menghasilkan racun.

Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan terhadap panas dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi memicu terjadinya depolimerisasi. Selain itu, gesekan-gesekan dan abrasi terhadap permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan lepasnya partikel formaldehid. Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah masuk ke tubuh manusia, terutama secara oral (mulut). Formaldehid juga dapat masuk melalui saluran pernapasan dan cairan tubuh.

Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia berpotensi membahayakan kesehatan. ”Formalin kan berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri saja tidak bisa hidup, berarti tinggal selangkah lagi meracuni makhluk yang lain,” ungkapnya berilustrasi. Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel, bahkan dapat pula mengakibatkan kematian sel. Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan gejala berupa muntah, diare, dan kencing bercampur darah. Sementara untuk jangka panjang, akumulasi formaldehid yang berlebih dapat mengakibatkan iritasi lambung, gangguan fungsi otak dan sumsum tulang belakang. Bahkan, fatalnya dapat mengakibatkan kanker

Lampiran melamin. pdf

Sumber : Badan POM RI, keluargasehat