Merpati Turunkan Penumpang Tunanetra

Puluhan penyandang tunanetra dan penderita cacat yang tergabung dalam Persatuan Penderita Cacat Indonesia (PPCI) mendatangi kantor perwakilan Merpati Nusantara Air Lines cabang Batam Selasa kemarin (21/7). Mereka meminta pertanggungjawaban maskapai penerbangan itu setelah seorang penumpang penyandang tunanetra Maryono diturunkan paksa dari pesawat.

Kepada Batam Pos (Jawa Pos Group), Ketua PPCI cabang Kepri (Kepulauan Riau) Lagalo mengatakan bahwa kejadian tersebut berlangsung Kamis lalu (16/7) sekitar pukul 23.00. Saat itu, Maryono bepergian bersama istrinya, Ani Asti, dan seorang anak mereka yang berusia enam tahun. Tujuan mereka adalah Bandung.

Saat pesawat akan lepas landas, kapten pilot Prayogi memaksa keluarga itu turun dengan dalih tidak ada pendamping. Uang tiket mereka memang dikembalikan. Namun, barang bawaan mereka yang berada di bagasi tidak diturunkan.

Alasan Prayogi, tidak cukup waktu untuk mencari dan menurunkan barang Maryono. ”Dia (Maryono) bersama istri dan anaknya terpaksa pinjam pakaian orang karena semua pakaiannya berada di tas mereka yang tak diturunkan,” ujar Lagalo.

Ketua Persatuan Ahli Pijat Tunanetra Indonesia cabang Kepri Edi Sugianto mengatakan, tindakan awak Merpati tersebut keterlaluan. Sebab, pihaknya dibeda-bedakan dengan penumpang yang normal.

Menurut dia, tugas seorang pilot hanya membawa pesawat selamat sampai tujuan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan hanya penumpang yang abnormal saja yang kena dampaknya, tetapi juga penumpang yang normal. ”Cukup aneh juga di Merpati. Di maskapai lain tidak ada yang seperti ini,” ujar Edi.

Lince Ramli, aktivis dari Forum HAM Batam yang mendampingi para tunanetra tersebut, mengatakan bahwa tindakan pilot Merpati itu melanggar HAM. Menurut dia, tidak ada ketentuan undang-undang yang melarang penyandang cacat bepergian dengan sarana transportasi udara.

Setelah menungu sekitar 30 menit, para tuna netra itu diterima Anto Priyadi, pimpinan Merpati Nusantara Airlines cabang Batam. Dalam pertemuan tersebut, Anto yang didampingi General Sales Merpati Nusantara Air Lines Bernardhus Nasution mengatakan, pihaknya meminta maaf atas kejadian yang menimpa keluarga Maryono pada Kamis lalu itu.

Menurut Anto, dalam ketentuan penerbangan di Indonesia, seorang yang menderita cacat bisa menikmati sarana transportasi udara asalkan ada pendamping. ”Segala ketentuan penerbangan itu diatur Departemen Perhubungan. Pihak maskapai hanya sebagai pelaksana,” kata Anto.

Bernardhus Nasution menambahkan, pihaknya tidak menurunkan barang Maryono malam itu karena takut terlambat tiba di Bandung. ”Bandara di Bandung tutup pukul 01.00 WIB. Jika telat, penerbangan akan batal. Makanya, kami terpaksa mengorbankan Maryono,” tutur Bernardhus.

Sumber : jawapost

2 Tanggapan

  1. memang penerbangan merpati demikian kelakuannya, saya juga hampir tidak diberangkatkan dari mataram ke denpasar sekitar bulan september 2009 saya lupa tanggalnya, sebaiknya penerbangan merpati dilaporkan saja ke Komisi HAM dan ajukan dia pengadilan, supaya hal tersebut tidak terulang terjadi pada penerbangan yang lain. Tapi dipenerbangan lain aman2 saja, kenapa di penerbangan merpati saja ada kejadian seperti itu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: