10 Anak Didakwa Judi Lantaran Bermain Koin

23 Juli adalah peringatan Hari Anak Nasional. Ironisnya, Selasa 21 Juli kemarin, sepuluh anak duduk di pesakitan di Pengadilan Negeri Tangerang sebagai terdakwa judi. Nasib mereka belum jelas, karena sidang dengan agenda pembacaan tuntutan jaksa itu diundur. Pasalnya, jaksa belum siap.

Kuasa hukum para bocah itu, Christine Tambunan menyesalkan penundaan itu. Dia menangkap kesan bahwa jaksa sengaja memperlambat persidangan. “Harusnya sekarang sidang selesai,” ucap Christine kesal.

Menurut Christine, dengan lamanya proses peradilan itu, dikhawatirkan bisa mengganggu pendidikan anak-anak yang masih duduk di bangku Selokah Dasar tersebut. Selain itu, dia menilai judi yang dilakukan anak-anak itu bukan bertujuan mencari uang.

Akan tetapi lebih pada bermain seperti kebanyakan yang dilakukan anak lainnya yaitu mencari kesenangan. “Semua anak mengaku, uang yang dipakai taruhan Rp 1.000. Bagi yang menang, dipakai untuk makan bersama dan mereka pulang tidak membawa uang. Jadi dimana letak judinya?,” ujarnya.

Persidangan itu juga menuai protes dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisi itu sempat mengajukan keberatan ke Kejaksaan Negeri Tangerang. Sayang, keberatan itu ditolak.

Marni (50), salah satu ibu bocah mengharapkan agar kasus itu cepat selesai dan kedua anaknya cepat dibebaskan. Sebab, dia merasa sudah lelah harus bolak-balik dari kampungnya Rawa Rengas, Kecamatan Kosambi. “Saya sudah capek mas,” keluh Marni.

Senada dikatakan Bule (30), ibu dari Musa dan Takip, merasa sedih melihat anaknya yang beberapa hari ini tidak sekolah, padahal ini pekan pertama ajaran baru. “Saya harus mengurus izin ke sekolahnya, kemudian menghadiri persidangan. Saya harap pengadilan secepatnya membebaskan anak saya, karena menyita waktu dan menguras energi dan materi,” ucapnya.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) berancang-ancang melaporkan jaksa yang mendakwa sepuluh bocah yang bermain judi koin di Bandara Soekarno-Hatta itu ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Sekjen Komnas PA Aris Merdeka Sirait menjelaskan bahwa jaksa tidak bisa membuktikan baik formal maupun non formal tindak criminal perjudian yang dilakukan anak-anak itu.

Permainan yang dilakukan anak-anak itu bukan untuk mencari makan atau pekerjaan, melainkan hanya sebagai bermain saja. “Mereka adalah korban kebijakan orang dewasa yang tidak menyediakan ruang publik seperti arena bermain yang wajar, sarana ekspresi dan sebagainya, sehingga mencari hiburan melalui permainan itu,” ujar Aris.

Karena itu, lanjutnya, Komnas Anak menyatakan proses hukum yang dijalani 10 anak itu mulai dari penangkapan, penahanan dan pengadilan di wilayah hukum Tangerang itu tidak memiliki perspektif perlindungan anak. Seharusnya aparat hukum yang menagani kasus tersebut memiliki sensitifitas, simpati dan empati terhadap perlindungan anak.

Sikap yang diambil Kejari Tangerang tidak layak bagi anak di bawah umur dengan memberlakukan pasal 303 tentang perjudian. Padahal, dalam persidangan jaksa tidak bisa memberikan barang bukti dengan alasan koin 500 yang dijadikan alat judi hilang.

“Barang buktinya tidak ada, koin yang hilang itu dipinjam polisi dari tukang ojek untuk menangkap mereka. Sedangkan uang Rp 135.000 adalah hasil mereka (10 terdakwa) menyemir di Bandara,” jelasnya.

Sumber : jawapost

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: