Waspada Teror Noordin saat Pilpres 8 Juli

Polisi terus melacak buron nomor wahid Noordin Mohammad Top. Teroris yang keberadaannya sempat terendus di daerah Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, pekan lalu itu kini diduga dilindungi oleh jaringan yang menganut sistem sel terpisah.

“Mereka punya sistem terpisah. Begitu satu diringkus, yang lain langsung move (bergerak),” ujar analis intelijen dan terorisme Wawan Purwanto di Jakarta kemarin (1/7). Karena sistem itu pula, kata Wawan, Densus 88 selalu beroperasi secara berantai.

“Pengejaran dilakukan secara simultan. Artinya, tidak dalam satu regu saja, namun beberapa regu dan terpisah-pisah,” kata dosen tamu Sekolah Tinggi Intelijen Negara, Sentul, Bogor, Jawa Barat, itu.

Doktor Universitas Padjadjaran Bandung itu menilai, lolosnya Noordin dari kejaran polisi sangat berpotensi memunculkan teror menjelang pemilihan presiden pada 8 Juli. “Karena itu, polisi sedang bekerja keras. Jaringan itu masih ada dan jika teror terjadi, dampaknya sangat luas di mata internasional,” kata Wawan.

Dikonfirmasi soal Noordin di sela-sela peringatan ulang tahun Polri, Kapolri Bambang Hendarso Danuri menolak menjelaskan secara detail. “Doakan saja, anak-anak sedang bergerak di lapangan,” ujarnya singkat. Berdasar informasi yang dihimpun koran ini, aparat Detasemen Khusus 88 Mabes Polri sudah tiga minggu berada di Kabupaten Cilacap yang berada di sekitar Gunung Slamet.

Selain Noordin, mereka sedang mencari seseorang yang bernama Bahrudin Latif alias Baridin, 55, warga Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah. “Mereka lari secara terpisah, Baridin dan Noordin tidak satu arah,” ujar sumber Jawa Pos di lingkungan Mabes Polri kemarin.

Baridin adalah paman ipar Saefudin Zuhri alias Ustad Jahuri yang diringkus Minggu (21/6) di Danasri Lor, Nusawungu, Cilacap, (Jawa Pos, 22/6). Sejak penangkapan Saefudin itu, Baridin menghilang. Menurut sumber tersebut, Densus memburu sampai di Jogjakarta karena Baridin juga punya rumah di daerah Kumendaman, Jogjakarta, namun nihil.

Karena itu, personel kesatuan elite berlambang kepala burung hantu tersebut kini kembali menyusuri Cilacap sampai Purbalingga. “Tujuannya mencari jejak yang ditinggalkan. Termasuk ke warnet-warnet yang ada di Cilacap,” ujar sumber itu tanpa menyebut detail lokasi.

Tim yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Densus 88 Mabes Polri Kombespol M. Syafii itu juga mencari informasi di lingkungan penjual jinten hitam (habbatus sauda). “Saefudin menjualnya untuk nafkah sehari-hari,” kata sumber tersebut. Tiga kelompok pemburu Densus 88 dibekali senjata lengkap, termasuk senjata standar senapan M-4 yang dulu pernah digunakan untuk membidik Azhari Husein di Malang.

Baridin sehari-hari berprofesi sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Muaddib, Binangun, Cilacap, Jawa Tengah. Pondok pesantren putri itu dikelola oleh keluarga Baridin sejak tiga tahun lalu. Putri Baridin, Arina, dinikahkan dengan seseorang yang diduga kuat Noordin M. Top.

Kolega Azhari Husein itu sudah diburu polisi selama tujuh tahun. Pada 29 April 2006, jejak Noordin terendus di Wonosobo. Empat orang teroris di Wonosobo, antara lain, Abdul Hadi alias Bambang alias Bahrudin Saleh. Dia tangan kanan Noordin M. Top dan Dr Azhari yang mampu merakit bom dan terlibat pengeboman di berbagai lokasi. Kemudian, Jabir alias Mujabir yang terlibat pengeboman di Kedubes Australia. Keduanya tewas dalam penggerebekan.

Selanjutnya, ada Solahudin alias Supri yang terlibat dalam peledakan bom di Atrium Senen dan Muhtafirin yang merupakan kurir kepercayaan Noordin. Dua orang itu dipercaya sebagai pintu Densus untuk mencokok Saefudin Zuhri.

Warga sekitar Ponpes Al Muaddib menyebut, keluarga Baridin agak eksklusif. Mereka tidak bersosialisasi secara wajar dengan warga sekitar. Jika benar Noordin adalah menantu Baridin, langkah Densus 88 tersebut akan mengakhiri pelarian warga Malaysia yang pintar merayu pengikut itu.

Noordin memang lihai berkelit. Dia lolos dalam penyergapan di Bandung pada 2003. Saat itu, Noordin lari dari plafon atas rumah kontrakannya. Saat penggerebekan Azhari Husein pada 9 November 2005 di Malang, Noordin juga tak ada.

Menurut Wawan, Noordin jago merekrut kader. “Dia mempunyai karisma dalam mendoktrin calon pengikut,” katanya. Sayang, Noordin menggunakan kedok pesantren untuk melindungi aksi-aksinya tersebut. “Padahal, jelas ini bukan isu agama,” tegasnya.

Sumber : jawapost

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: