Keluar Dari Jerat Kemiskinan Lewat Kreasi Sepeda Bambu

Sepeda bambuENTENG dan minim getaran. Inilah keunggulan alat transportasi rakyat yang dilabeli Bamboosero itu. Kelebihan tersebut membuat sepeda bambu nyaman dikendarai untuk menempuh jarak jauh sekalipun.

”Ratusan orang menanyakan kapan mereka bisa membelinya. Mulai dari kurir hingga kolektor kaya (semua) menginginkan Bamboosero,” ujar Craig Calfe seperti dilansir BBC kemarin (1/7). Calfe hanyalah salah seorang dari empat orang muda yang melahirkan produk ramah lingkungan ini. Yang lain adalah Benjamin Banda, Mwewa Chikamba, dan Vaughn Spethmann.

Penciptaan sepeda bambu itu bermula dari keinginan empat sekawan tersebut untuk menciptakan usaha sendiri yang dapat menolong warga lokal lepas dari kemiskinan.

Lantas, bagaimana dengan harganya? Untuk sebuah kerangka sepeda gunung dan sepeda biasa yang belum jadi bisa didapatkan dengan merogoh kantung sebesar USD 475 (sekitar Rp 4,812 juta). Harganya akan lebih mahal untuk sebuah sepeda yang telah jadi. Bisa mencapai lebih dari USD 900 (sekitar Rp 9, 117 juta). Harga itu tentu saja sepadan karena merupakan buatan tangan.

Kelompok pengusaha muda ini dapat menekan harga karena semua proses pengerjaan dipusatkan di Zambike, Zambia. Mulai dari menanam bambu, memotong, hingga merakit. Semuanya dikerjakan dengan teknik yang sederhana. Lantaran bahan dari bamboo, perekatnya menggunakan lem kayu. ”Kami menanam bambu ini tahun lalu dan sekarang batangnya sudah lebih tinggi daripada aku. Kalau sudah siap kami akan memotongnya dan merubahnya menjadi kerangka (sepeda),” ujar Benjamin Banda.

Sosok di belakang perakitan karya nyentrik itu adalah Elastus Lemba yang dikenal sebagai mekanik perakit sepeda handal. Setidaknya sebuah sepeda dapat dihasilkan dalam waktu seminggu. Setelah siap semua sepeda akan dikapalkan untuk dijual ke Amerika Serikat. ”Kami sangat tertarik. Pemikiran produk buatan Zambia dijual di AS. Tidak pernah terjadi sebelumnya,” tutur Spethmann.

”Saya bisa melihat penjualannya yang memiliki hasil baik di Amerika. Mereka akan menyukainya karena alami,” Divilance Machilika, koordinator operasi yang mencicipi hidup di tenda selama setahun sebelum workshop sepeda mereka selesai dibangun.

Mereka tidak terlalu memperdulikan untung dari proyek unik ini. ”Ini lebih dari sekadar sepeda. Kami ingin memberi pekerja kami keahlian praktis dan menghargai dedikasi mereka. Kami ingin merubah kehidupan (warga lokal),” ujar Machilika.

Menurutnya orang seperti Mwewa Chikamba lah -yang juga merupakan salah satu pendiri- yang ingin ditiru warga di sana. Yaitu dapat memiliki usaha sendiri dan membantu orang banyak.

Target mereka ke depan adalah meningkatkan keahlian untuk dapat menghasilkan sepeda yang lebih kuat. Produk mereka seperti sepeda gandeng dan sepeda cepat yang diberi nama Zambulance telah digunakan di 10 klinik di sekitar wilayah Lusaka. Mereka juga siap membuka toko di Accra, Ghana, dan memproduksi sepeda lebih banyak lagi serta mempekerjakan orang lebih banyak.

Sumber : jawapost

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: